Rusmilawati's Blog

Everyday is so precious

YANG BISU YANG BERBICARA DAN YANG BERBICARA YANG BISU

on August 28, 2010
Perjalanan ke kantor hari itu sebenarnya agak menjemukan. I don’t Like Monday Actually. Hari Senin yang harus dilalui dengan rutinitas yang membutuhkan energi dan pikiran yang penuh. Seperti Biasa termasuk hari itu, saya naik kendaraan umum, dan duduk di tempat yang paling saya senangi yakni di samping Supir, dengan pertimbangan dapat memandang ke berbagai arah dengan leluasa.

10 menit perjalanan, mobil yang saya tumpangi diberhentikan seorang Bapak bersama seorang anak berumur sekitar 8 atau 9 tahun, perkiraan duduk di bangku kelas 2 atau 3 SD. Yaah anak berkulit hitam, dengan senyum manisnya, berseragam SD.
Si Bapak berkata pada Bapak Supir “Pak, tolong antarkan putra saya ke SLB (sekolah Luar Biasa), mohon jangan terlewat yaa pak, Dia tidak bisa berbicara”. Pak Supir mengangguk. Kemudian, masuklah anak itu dan duduk dengan tenang di Bangku tengah di depan para ibu-ibu dan bapak yang sedang asyik masyuk ngobrol.

Perjalanan pun dilanjutkan. Sungguh pada saat itu pikiran ini sama sekali tidak melintas hal yang istimewa perihal anak itu, kecuali senyum manisnya. Pandanganku kembali kuarahkan pada hamparan sawah dan kebun di samping kiriku, pikiranku melayang pada agenda yang harus kuselesaikan pada hari ini. Setelah melewati pom bensin, diriku tersentak seperti teringat sesuatu. Ah ya, aku ingat anak yang tidak bisa berbicara itu belum turun, kiranya hampir sampai Dia. Tapi, kendaraan ini tetap dengan kecepatan yang sama tanpa ada tanda-tanda akan berhenti di SLB. Wah rupanya bapak Supir Lupa, pikirku. Ketika hendak mengingatkan, ternyata pikiranku salah, bapak supir itu ternyata mendadak ingat dan segera menghentikan kendaraan tepat di depat SLB. Selanjutnya, si Anak Bisu itu turun, mengansurkan ongkos 2 (dua) lembar ribuan, dan……………………………sungguh membuatku terkejut, meskipun terpatah-patah dan hampir tiada suara yang terdengar, kulihat DIA BERUSAHA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH pada pak supir, plus dengan senyum manisnya. Pak Supir membalasnya dengan anggukan dan senyum. Mungkin dia sendiri kaget dengan usaha anak itu.

Saya sungguh terpana. Beberapa menit hingga mobil itu dijalankan kembali aku masih terpesona dengan anak bisu itu. Entah apa yang kupikirkan, yang terlintas hanya kekaguman. Hingga mobil kembali berhenti dan menurunkan beberapa penumpang di depan Pasar. Buyar lamunanku tentang anak itu, dan tergantikan dengan kekagetan yang baru. Kondisi yang berbanding terbalik, beberapa ibu dan bapak turun dari mobil, mengangsurkan ongkos tanpa mengatakan apapun pada si sopir. Wah, benar-benar kontradiktif. Mungkin pikir mereka, sudah kewajiban si supir untuk mengantarkan, dan ongkos yang dibayarkan sudah cukup sebagai pengganti ucapan TERIMA KASIH, Ironis Paradoks Kehidupan.
Terlintas di benakku, Si Bisu yang bisa berbicara dan Si berbicara yang Bisu. Kita seharusnya malu pada diri kita sendiri, pada Tuhan yang melengkapi kita dengan indera bicara, namun Bisu hanya untuk mengucapkan Terima Kasih. Mengapa kita yang merasa dewasa menjadi sangat sombong, bangga akan harga diri sehingga tidak mampu menghargai orang lain dengan cara yang paling sederhana sekalipun, yakni Terima Kasih. Bukankan lisan yang diberikan Allah memang ditujukan agar kita berucap yang baik-baik, agar kita bisa menghargai orang lain melalui ucapan, dan Terima kasih adalah salah satu ucapan terbaik ever.

Yang bisu yang bisa berbicara. Yang bisu yang bisa mensyukuri anugerah sang pencipta lisan. Kalau seperti ini, maka manakah yang sebenarnya makhluk yang sempurna??. Pantaskan kita menyandang predikat “Sempurna” hanya karena kelengkapan atribut indrawi kita, namun tidak kita fungsikan dengan baik sesuai dengan maksud penciptaan-NYA. Ataukah, sebenarnya si cacat yang “Sempurna” dalam arti sebenarnya, karena dia yang mampu memaksimalkan fungsi atribut indrawinya yang terbatas melampaui keterbatasan dia. Nurani Anda mengetahui betul jawaban atas pertanyaan tersebut.

Sepatutnya kita belajar pada anak kecil bisu itu. Betapa anak kecil tersebut tahu betul bagaimana cara menghargai orang lain, meskipun dia tiada bisa berbicara, bahkan kesulitan untuk sekedar mengucapkan 2 patah kata, meskipun nampaknya bantuan yang diberikan si bapak supir sepele dan sudah merupakan kewajiban untuk mengantarkannya sesuai dengan ongkos yang dia berikan. Namun, Dia melakukannya dengan sepenuh hati, dengan senyum tersungging untuk mengucapkan TERIMA KASIH.

Ucapan TERIMA KASIH kedengarannya sepele, bahkan mungkin dipandang hanyalah basa-basi belaka. Tahukah anda bahwa di balik ucapan yang sederhana itu tersimpan kekuatan yang amat dasyat, yang dapat menggerakkan energi positif dalam tubuh kita, dan menarik energi positif dari orang lain yang mendengarkannya.
Penelitian Masaru Emoto, bahwa air bereaksi berbeda terhadap kata-kata yang berbeda-beda. Dan, ternyata Masaru Emoto membuktikan bahwa terdapat dua kata yang memiliki efek yang sangat powerful terhadap air, yakni CINTA dan TERIMA KASIH. Kedua ucapan tersebut dapat memberikan aura positif dan membentuk konfigurasi ikatan yang indah pada elemen air. Air saja yang notabene-nya benda mati bisa bereaksi demikian indahnya pada ucapan Terima Kasih, Apalagi Manusia yang merupakan makhluk hidup, yang disebut-sebut sebagai makhluk yang paling sempurna dari semua makhluk penciptaan Allah. Tentunya, akan bereaksi yang lebih indah daripada AIR, terlebih lagi 80 % elemen air mendominasi tubuh manusia. Dapat anda bayangkan akan konfigurasi indah yang terbentuk dalam aura positif kita hanya dengan mengucapkan dan mendengarkan ucapan TERIMA KASIH. POWERFUL!!

Seorang pujangga terkenal Leo Toltoy pernah mengatakan “ Everybody thinks of changing the world, but Nobody thinks of changing himself” (setiap orang berpikir untuk merubah dunia, tapi tidak seorang pun berpikir untuk merubah dirinya sendiri). Pendapat ini logis sekali, Dunia tidak akan berubah sebelum kita mampu mengubah diri kita sendiri. Mulailah dari kita sendiri, dan mulailah dari yang paling remeh, kecil dan sederhana. Bukankan yang besar pun lahir dari yang remeh-temeh. Bukankan yang remeh, yang kecil, yang nampaknya tidak berwujud menyimpan energi yang amat dasyat. Nuklir yang tercipta dari energi quanta yang sulit terlihat, ternyata memiliki kekuatan yang amat dasyat dan memiliki efek kehancuran yang besar. TERIMA KASIH mungkin amat simple, kecil, namun percayalah efek yang ditimbulkan sangat besar. So, Mulailah dengan mengucapkan terima kasih atas jasa sekecil apapun. Karena dengan mengucapkan terima kasih, menunjukkan kita adalah manusia yang sempurna, yang dapat mensyukuri anugerah Allah, yang dapat menghargai diri sendiri dan orang lain. Jika sudah demikian, betapa indahnya dunia. – rosemila, preserved by the law-


One response to “YANG BISU YANG BERBICARA DAN YANG BERBICARA YANG BISU

  1. Pi'i says:

    Ceritanya bagus………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: